Tuesday, April 9, 2013

Wayang Kulit

Kebudayaan Indonesia memang sangat beragam, banyak hal-hal menarik dan membanggakan dari Indonesia, dari keberagaman suku, adat istiadat, sampai dengan kebudayaan dari tiap daerah mempunyai nilai seni tersendiri yang mencirikan kayanya Indonesia akan kebudayaan. Berhubung Jaya orang Jawa, Jaya akan sedikit mengupas salah satu budaya Jawa yang sangat membanggakan, yaitu Wayang.

WAYANG merupakan salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang sangat membanggakan. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang makin berkembang dari zaman ke zaman yang juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.

Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya ini wayang merupakan budaya asli dari Indonesia, yaitu di Pulau Jawa. Dikabarkan bahwa keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di kalangan masyarakat kini merupakan adaptasi dari karya sastra India sepeeri Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia.

Dalam disertasinya berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (1897), ahli sejarah kebudayaan Belanda Dr. GA.J. Hazeau menunjukkan keyakinannya bahwa wayang merupakan pertunjukan asli Jawa. Pengertian wayang dalam disertasi Dr. Hazeau itu adalah walulang inukir (kulit yang diukir) dan dilihat bayangannya pada kelir. Dengan demikian, wayang yang dimaksud tentunya adalah Wayang Kulit seperti yang kita kenal sekarang.

Ada dua pendapat mengenai asal-usul wayang ini di dunia. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Di antara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt.

Alasan mereka cukup kuat. Di antaranya, bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa. Panakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak di negara lain. Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna), dan bukan bahasa lain.

Dan pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan agama Hindu ke Indonesia. Mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India.

Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku pe¬wayangan seolah sudah sepakat bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa, dan sama sekali tidak diimpor dari negara lain.

Budaya wayang ini diperkirakan sudah lahir di Indo¬nesia setidaknya pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976 -1012), yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang mengalami kejayaan. Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, sejak abad X. Antara lain, naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910), yang merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga In¬dia, Walmiki. Kemudian, para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke bahasa Jawa Kuna, tetapi juga menggubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan falsafah Jawa kedalamnya. Contohnya, karya Empu Kanwa Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabarata. Gubahan lain yang lebih nyata bedanya derigan cerita asli versi In¬dia, adalah Baratayuda Kakawin karya Empu Sedah dan Empu Panuluh. Karya agung ini dikerjakan pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya, raja Kediri (1130 - 1160).

Wayang sebagai suatu pergelaran dan tontonan pun sudah dimulai ada sejak zaman pemerintahan raja Airlangga. Beberapa prasasti yang dibuat pada masa itu antara lain sudah menyebutkan kata-kata "mawa¬yang" dan `aringgit' yang maksudnya adalah per-tunjukan wayang.

Mengenai saat kelahiran budaya wayang, Ir. Sri Mulyono dalam bukunya Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang (1979), memperkirakan wayang sudah ada sejak zaman neolithikum, yakni kira-kira 1.500 tahun sebelum Masehi. Pendapatnya itu didasarkan atas tulisan Robert von Heine-Geldern Ph. D, Prehis¬toric Research in the Netherland Indie (1945) dan tulisan Prof. K.A.H. Hidding di Ensiklopedia Indone¬sia halaman 987.

Kata `wayang' diduga berasal dari kata `wewa¬yangan', yang artinya bayangan. Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir, secarik kain, sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang, dan penonton di balik kelir itu. Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir. Pada masa itu pergelaran wayang hanya diiringi oleh seperangkat gamelan sederhana yang terdiri atas saron, todung (sejenis seruling), dan kemanak. Jenis gamelan lain dan pesinden pada masa itu diduga belum ada.



Untuk lebih menjawakan budaya wayang, sejak awal zaman Kerajaan Majapahit diperkenalkan cerita wayang lain yang tidak berinduk pada Kitab Ramayana dan Mahabarata. Sejak saat itulah cerita¬cerita Panji; yakni cerita tentang leluhur raja-raja Majapahit, mulai diperkenalkan sebagai salah satu bentuk wayang yang lain. Cerita Panji ini kemudian lebih banyak digunakan untuk pertunjukan Wayang Beber. Tradisi menjawakan cerita wayang juga diteruskan oleh beberapa ulama Islam, di antaranya oleh para Wali Sanga. Mereka mulai mewayangkan kisah para raja Majapahit, di antaranya cerita Damarwulan.

Masuknya agama Islam ke Indonesia sejak abad ke-15 juga memberi pengaruh besar pada budaya wayang, terutama pada konsep religi dari falsafah wayang itu. Pada awal abad ke-15, yakni zaman Kerajaan Demak, mulai digunakan lampu minyak berbentuk khusus yang disebut blencong pada pergelaran Wayang Kulit.

Sejak zaman Kartasura, penggubahan cerita wayang yang berinduk pada Ramayana dan mahabarata makin jauh dari aslinya. Sejak zaman itulah masyarakat penggemar wayang mengenal silsilah tokoh wayang, termasuk tokoh dewanya, yang berawal dari Nabi Adam. Sisilah itu terus berlanjut hingga sampai pada raja-raja di Pulau Jawa. Dan selanjutnya, mulai dikenal pula adanya cerita wayang pakem. yang sesuai standar cerita, dan cerita wayang carangan yang diluar garis standar. Selain itu masih ada lagi yang disebut lakon sempalan, yang sudah terlalu jauh keluar dari cerita pakem.

Memang, karena begitu kuatnya seni wayang berakar dalam budaya bangsa Indonesia, sehingga terjadilah beberapa kerancuan antara cerita wayang, legenda, dan sejarah. Jika orang India beranggapan bahwa kisah Mahabarata serta Ramayana benar-benar terjadi di negerinya, orang Jawa pun menganggap kisah pewayangan benar-benar pernah terjadi di pulau Jawa.

Dan di wilayah Kulonprogo sendiri wayang masih sangatlah diminati oleh semua kalangan. Bukan hanya oleh orang tua saja, tapi juga anak remaja bahkan anak kecil juga telah biasa melihat pertunjukan wayang. Disamping itu wayang juga biasa di gunakan dalam acara-acara tertentu di daerah kulonprogo ini, baik di wilayah kota Wates ataupun di daerah pelosok di Kulonprogo.

Sunday, April 7, 2013

Batik

Woww ...... Jaya kalo' ngelihat kain yang satu ini kagum banget, menurut jaya sih menarik dengan gaya etnik yang tetap mengensankan kemewahan dan keindahan, apa lagi kalau bukan BATIK, kain yang menjadi kebanggan Indonesia
 
Dari Wikipedia dijelaskan bahwa Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.
 
Tapi, pada tahu ndak sih sejarah Batik sendiri?, dari berbagai sumber Jaya akan coba jelaskan ! Batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an. Kata "batik" berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: "amba", yang bermakna "menulis" dan "titik" yang bermakna "titik". Namun salah satu ahli sejarah yaitu G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (sejarawan Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.

G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu. Detil ukiran kain yang menyerupai pola batik dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa Timur abad ke-13. Detil pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa yang dapat ditemukan kini. Hal ini menunjukkan bahwa membuat pola batik yang rumit yang hanya dapat dibuat dengan canting telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.

Memang mungkin sulit mengungkap asal mula suatu tradisi yang memang sudah menjadi kebudayaan nenek moyang yang diwariskan secara turun-temurun, tapi yang jelas Batik adalah motif kain khas asli Indonesia yang banyak berkembang di daerah Jawa. Para wanita-wanita Jawa sering menggunakan kain ini dalam kesehariannya. Namun seiring dengan berkembangnya zaman budaya Batik makin meluas dan menyebar ke banyak daerah di Indonesia, dan sampai akhirnya sekarang banyak sekali motif-motif batik yang bisa kita jumpai hampir di setiap daerah dengan pola dan corak yang beragam.

Gundul Gundul Pacul

Gundul gundul pacul-cul, gembelengan
Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar




Download MP3 "Gundul-Gundul Pacul" klik disini


Lagu "Gundul-Gundul Pacul" di atas pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita, terutama untuk orang Jawa,  lagu yang sering dinyanyikan oleh orang tua untuk menghibur anaknya ini kalau dibaca liriknya pasti beranggapan bahwa lagu ini lagu humor atau lelucon, tapi tahukan sobat semua bahwa lagu ini mempunyai filosofi yang amat dalam? Hmmm, OK saya akan berikan informasi nya untuk sobat semua.


"Lagu ciptaan siapa sih ?" Hmm ...., pertanyaan bagus tuh, lagu ini adalah ciptaan salah satu Wali Songo yang tersohor di masanya, yaitu Sunan Kalijaga. "Wow, beneran nih, ciptaan Sunnan?" mungkin sih kedengarannya aneh ya, "kok sunan nyiptain lagu kocak sih?". OK, sekarang coba simak penjelasan berikut. 

Lagu "Gundul-Gundul Pacul" adalah salah satu lagu daerah yang sangat terkenal, yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga sekitar tahun 1400-an (udah dijelasin di atas -_- ).

"Gundul" dalam bahasa Jawa artinya adalah kepala yang tidak memiliki rambut (botak). Sedangkan rambut sendiri bisa berarti sebagai suatu mahkota atau kehormatan seseorang, jadi filosofinya yaitu "Gundul" : kehormatan yang tidak memiliki mahkota.
 
"Pacul" dalam bahasa Indonesia artinya Cangkul yaitu alat yang digunakan oleh petani untuk menggemburkan tanah. "Pacul" : melambangkan kaum bawah yang biasanya adalah petani.
 
Jadi, "Gundul Pacul" mengandung makna : seorang yang memimpin bukanlah orang yang diberi mahkota, namun seorang pembawa cangkul (bekerja keras) yang harus memperjuangkan rakyatnya. Di kalangan Jawa makna filosofi pacul adalah sebuah singkatan yang berarti 'papat kang ucul' (empat hal yang tidak bisa lepas) yaitu : mata, telinga, hidung dan mulut. Kemuliaan seseorang akan sangat tergantung empat hal, yaitu bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.
1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.
2. Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.
3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
4. Mulut digunakan untuk berkata-kata yang adil.
Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.
Jadi kemuliaan seorang pemimpin bergantung bagaimana dia mempergunakan pacul (memperjuangkan rakyatnya) tersebut.
 
 "Gembelengan" maknanya adalah besar kepala atau sombong dalam mempergunakan kekuasaanya. Seorang yang dikatakan pemimpin seharusnya menjaga sikap agar tidak gembelangan (sombong) dalam memimpin rakyatnya. Jadi makna 'nyunggi wakul gembelengan' (membawa bakul sambil gembelengan) adalah seorang pemimpin yang semena-mena menyandang amanah (amanah disini diibaratkan sebagai bakul/tempat nasi) rakyat.
 
 "Wakul" bisa diartikan sebagai ketenteraman rakyat, jika 'wakul ngglempang segane dadi sak latar' maka artinya kalau pemimpin semena-mena maka kesejahteraan rakyat akan tumpah dan tidak dihiraukan lagi.

Kalau misalnya dicontohkan bahwa Wakul itu sebagai dana pembangunan untuk ke sejahteraan rakyat, harusnya tidak dipikul (sunggi) secara gembelengan atau semena-mena karena akibatnya "wakul ngglempang segane dadi sak latar" yang bisa diartikan dana yang diamanatkan tidak dibagi secara adil akhirnya malah akan jadi tumpah ke mana-mana, bisa ke kantong para pejabat, naahhhhh kan !!!!! itu sama aja dengan KORUPSI !!!!!

 Sunan Kalijaga membuat lagu ini bukan sembarangan, beliau sudah bisa memprediksikan bahwa kondisi pemerintahan yang berjalan pada saat itu hingga sekarang ya seperti wakul ngglempang itulah .....
Nahhh lhoooo, udah tahu kan bahwa kebudayaan KORUPSI itu memang sudah ada sejak dulu, hmmmm .... miris ya dengernya ......

Sebagai penerus bangsa terutama generasi muda yang akan terjun ke pemerintahan, harap benar-benar menjunjung tinggi moral dan akhlak budi pekerti yang baik, supaya tidak terjadi dan terus terulang budaya KORUPSI ...

Sekian dulu aja ya, semoga artikel ini bermanfaat untuk para pembaca terutama generasi muda yang sedang belajar dan mencari ilmu pengetahuan untuk bekal kelak di masa depan, ikutin terus postingan Jaya ya ....
mudah-mudahan bermanfaat ...

Terima Kasih ....

Sunday, March 24, 2013

Raden Ajeng Kartini

Mungkin jika kita mendengar kata "Emansipasi" tentunya pasti akan terbersit di benak kita tentang perjuangan mulia dari "Raden Ajeng Kartini" atau lebih akrab dikenal dengan RA Kartini. Hayooo ....., coba ingat-ingat kembali siapa itu RA Kartini (itu sih nama guru MTK ku waktu SMP, hahahaha .... just kidding !). RA Kartini adalah wanita tercantik di masanya. Kenapa saya bilang wanita tercantik, penafsiran saya tentang wanita tercantik bukanlah seorang wanita yang memiliki keindahan paras serta tubuh bak bidadari syurga (kaya' pernah liat bidadari aja, hehehehe ....., just kidding), tapi wanita yang benar-benar memiliki kemampuan besar untuk melakukan suatu hal yang sangat mengagumkan (cantik) yang bisa menginspirasi banyak orang dan menjadikannya teladan yang baik, setuju tidak dengan pendapat saya itu? Saya rasa pasti setujukan? Baiklah, menjelang tanggal 21 April, di sini saya akan berbagi informasi tentang RA Kartini.

Dari wikipedia dituliskan bahwa Raden Adjeng Kartini, lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 dan wafat di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh suku Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. 

Nah ..., berikut ini tentang biografi RA Kartini :

http://4.bp.blogspot.com/-6P4qdd6Mhu8/T5IRyS4jJnI/AAAAAAAAC2I/mxWwBaqeTeg/s1600/1.jpgRaden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa. Ayah RA Kartini bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, beliau adalah bupati Jepara. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. 

Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.
 
Raden Ajeng Kartini merupakan anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Raden Ajeng Kartini adalah anak perempuan tertua dari kesemua saudara kandungnya, Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda


Kemudian setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit. Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Dari sinilah timbul keinginan Raden Ajeng Kartini untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Karena kegemaran membacanya, Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat serta majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kemudian Kartini beberapa kali mencoba mengirimkan tulisannya. Alhasil tulisannya dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata) dan semuanya berbahasa Belanda. Bukan main perhatian Raden Ajeng Kartini tentang ilmu pengetahuan sehingga memperkaya wawasannya yang menjadi bekal perjuangannya.

Kemudian Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903 dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat karena suruhan dari orang tuanya. K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat sendiri adalah bupati Rembang, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Beruntunglah Kartini karena suaminya mengerti akan keinginannya. Kartini pun diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Soesalit Djojoadhiningrat itulah nama anak pertama dan sekaligus terakhirnya, yang lahir pada tanggal 13 September 1904. Dan kemudian beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun dan dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Kemudian buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Pada tahun 1911 Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan kemudian dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.

Balai Pustaka menerbitkannya kembali dalam bahasa Melayu pada tahun 1922 dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara. Kemudian tahun 1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru. Dalam versi Armijn buku ini dibagi menjadi lima bab pembahasan untuk menunjukkan perubahan cara berpikir Kartini sepanjang waktu korespondensinya yang dicetak sebanyak sebelas kali. Surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers. Selain itu, dan juga surat-surat Kartini pernah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Jawa dan Sunda.

Terbitnya surat-surat Kartini ini yang notabene adalah seorang perempuan pribumi, sangat menarik perhatian masyarakat Belanda, dan pemikiran-pemikiran Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa. Pemikiran-pemikiran Kartini juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia, antara lain W.R. Soepratman yang menciptakan lagu berjudul Ibu Kita Kartini.


Buku-buku RA Kartini antara lain :
Tentunya sangat menarik dan mengesankan bukan perjuangan yang dilakukan oleh RA Kartini ini, berkat kepandaian, tekad dan kegigihannya ia diberi kemampuan untuk memperjuangkan para perempuan di Indonesia. Sebagai wanita Indonesia haruslah berterima kasih kepada beliau dan jangan lupa, tetap perjuangankan harkat, derajat dan martabat wanita Indonesia, jangan malah merendahkan lantas menjadikan wanita hanya sebagai penghias hidup para lelaki, atau justru menjadi wanita yang hanya merelakan dirinya untuk dijadikan budak, PSK, atau hal negatif lainnya. STOP !!!! wanita diciptakan bukan untuk itu, kita sesama manusia (baik laki-laki dan perempuan) diciptakan untuk saling melengkapi, manusia juga diciptakan dengan berbagai kelebihan untuk menjadikan kehidupan yang indah di bumi.

Jadi, marilah bersama-sama kita bangun kerukunan untuk hidup saling melengkapi dan ingat bagi para wanita, perjuangan RA Kartini sudah sangat berat, maka jangan sia-siakan hal itu. Mungkin ini sedikit informasi yang bisa saya hadirkan untuk membantu Anda semua mengetahui tentang RA Kartini. 


Sebagai pembaca yang baik, mohon komentar dan sarannya. 
Terima Kasih.